Senin, 31 Agustus 2015

Cerpen Remaja





Hari ini hari senin, seperti kebanyakan orang yang tidak menyukai senin aku juga begitu. Kenapa butuh tujuh hari ke hari minggu sedangkan hanya butuh waktu sehari ke hari senin. Itu alasan yang cukup logis menurutku.
Sepulang sekolah aku pergi ke toko buku untuk membeli novel. Aku sangat suka membaca novel. Setelah mendapat novel yang ku cari, aku berdiri di teras toko sambil membaca sinopsisnya.
Terdengar bunyi klakson yang sangat keras. Karena kaget aku spontan mundur beberapa langkah, tak sengaja novelku terjatuh dan dengan cepat telah berubah bentuk saat roda moge (motor gede ) melindasnya. Mulutku masih menganga saat seorang cowok turun dari moge itu tanpa melihatku.
“ Heh coba lihat novelku sudah gak berbentuk gini ” bentakku kesal.
“ Terus kenapa? Bukan urusanku juga” jawabnya asal.
“ Roda motormu itu udah ngancurin novelku masih bilang gak urusanmu?” cerocosku.
“ Yaudah tinggal beli lagi, susah banget”
“ Setidaknya kamu bisa tanggung jawab kan”
“ Oh gitu. Kenapa? Butuh uang? Bentar”
Mendengar kata-kata itu hatiku langsung panas, aku langsung menuju mogenya dan mendorongnya sampai jatuh. Setelah itu aku berlari sekencangnya. Terdengar sayup suaranya
“ Woy awas balik ke sini”
Hari yang buruk tapi yasudahlah. Esoknya aku sekolah seperti biasa. Aku sedang memperhatikan guru saat tiba-tiba tigaa orang cowok datang memakai jas OSIS sepertinya mereka akan menjelaskan kegiatan buat ulang tahun sekolah. Tapi tunggu, aku mengenali salah satu dari mereka. Itu cowok moge di toko buku kemarin. Pasti dia masih inget wajahku, dengan cepat aku menutup wajahku dengan buku. Aku tidak dapat mendengar penjelasan mereka, karena suara detak jantungku lebih keras. Tapi sepertinya dia sudah melihat wajahku.
Bel pulang berbunyi, aku ingin cepat pulang agar tidak bertemu cowok tadi. Saat di depan kelas aku sangat kaget, dia sudah ada di sana dengan tatapan tajamnya. Dia langsung menarik tanganku.
“ Eh apaan sih lepasin gak!” bentakku.
“ Diem!” dia hanya bilang itu, tapi sepertinya itu lebih dari cukup untuk membuaat aku diam. Setelah sampai di taman sekolah dia melepas tanganku dengan kasar.
“ Pelan-pelan bisa kan?” protesku.
“ Kamu harus ngikutin perintahku dalam seminggu !”
“ Apa? Gila ya gak mau”
“ Denger ya kamu udah dorong motorku sampai jatuh lecet pula, masih mending Cuma seminggu”
“ Tapi novel...”
“ Dan itu dimulai besok. Mengerti ?”
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung pergi. Walau ku akui dia menarik tapi benar-benar gila.
Keesokannya aku berdo’a dengan khusu’ agar tidak bertemu dia atau berharap tiba-tiba kepalanya terbentur dan lupa ingatan. Tapi tiba-tiba...
“ Bawa tasku sampai kelas!” dia langsung melempar tas ke arahku, aku sangat kesal, tapi anehnya aku diem aja. Begitu terus cowok judes itu memerintahku bak majikan sampai enam hari, tapi ku akui sikapnya mulai sedikit berubah.
Dari pagi aku tidak melihatnya padahal biasanya dia sudah mencegatku di depan gerbang. Seharusnya ini jadi best day karena ini hari ke-tujuh atau mungkin dia memberi potongan hari karena kerjaku yang bagus? Entahlah. Tiba-tiba lamunanku buyar.
“ Eh kamu ditunggu sepulang sekolah di toko buku”
“ Eh apa? Kamu siapa? Ngapain?”
“ Gak tau aku Cuma nyampein pesen gak tau dari siapa”. Mungkin si moge yang nyuruh, apa dia mau ngasih tugas terakhir? Gak tau yang penting aku mau hukuman ini cepet selesai.
Aku memutuskan pergi kesana, tapi di toko buku sepi sekalai padahal toko ini terkenal ramai, aku mulai was-was jangan-jangan si moge itu bikin ulah. Tiba-tiba ada suara nyanyian lengakap dengan suara gitar, aku mencoba mencari asal suara itu. Dan kudapati  si moge sedang berjalan pelan ke arahku. Dan nyanyiannya berhenti ketika dia sampai di depanku. Aku gugup kenapa aku malah grogi.
“ Hai”
“ Apa? Kamu Cuma bilang hai setelah hal aneh kayak gini?”
“ Maaf mengagetkanmu”
“ Ada apa ini, aku bingung”
“ Jadi would you be my girlfriend?”
“ Apa? Gak lucu deh”
“ Aku serius. Jadi satu minggu ini aku udah mikir panjang dan ini endingnya. Maaf aku sering kasar ke kamu” jawabnya lembut.
“ Haaa?”
Kenapa dia jadi serius ngomongnya juga halus gitu. Tapi aku gak bisa nyembunyiin kalau aku seneng banget. Aku tidak tahan mendengar kata-katanya tapi masa aku juga suka sama dia?. Sepertinya dia menyadari ekspresi wajahku yang aneh, dia langsung menyodorkan satu bucket mawar besar.
“ Ambil, jika kamu mau jadi pacarku”
Gimana ini? Aku bingung pengen pergi aja dari sini tapi masa aku gak ngasih jawaban. Dengan perlahan aku mengambil mawar itu. Kulihat senyum penuh arti, senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya.

KOMUNIKASI PEMASARAN

  KOMUNIKASI PEMASARAN PRODUK ADIDAS Adidas-Salomon AG. atau yang lebih dikenal dengan Adidas merupakan merupakan perusahaan yang m...